Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Budaya Dasar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Maret 2011

Tari Saman Dari Aceh

Di antara beraneka ragam tarian dari pelosok Indonesia, tari saman termasuk dalam kategori seni tari yang sangat menarik. Keunikan tari saman ini terletak pada kekompakan gerakannya yang sangat menakjubkan. Para penari saman dapat bergerak serentak mengikuti irama musik yang harmonis. Gerakan-gerakan teratur itu seolah digerakkan satu tubuh, terus menari dengan kompak, mengikuti dendang lagu yang dinamis. Sungguh menarik, bukan? Tak salah jika tari saman banyak memikat hati para penikmat seni tari. Bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari mancanegara. Sekarang, mari kita ulas lebih dalam lagi mengenai tarian unik ini.


Sejarah
Mengapa tarian ini dinamakan tari Saman? Tarian ini di namakan Saman karena diciptakan oleh seorang Ulama Aceh bernama Syekh Saman pada sekitar abad XIV Masehi, dari dataran tinggi Gayo. Awalnya, tarian ini hanyalah berupa permainan rakyat yang dinamakan Pok Ane. Namun, kemudian ditambahkan iringan syair-syair yang berisi puji-pujian kepada Allah SWT, serta diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari. Saat itu, tari saman menjadi salah satu media dakwah.
Pada mulanya, tari saman hanya ditampilkan untuk even-even tertentu, khususnya pada saat merayakan Hari Ulang Tahun Nabi Besar Muhammad SAW atau disebut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Biasanya, tari saman ditampilkan di bawah kolong Meunasah (sejenis surau panggung). Namun seiring perkembangan zaman, tari Saman pun ikut berkembang hingga penggunaannya menjadi semakin sering dilakukan. Kini, tari saman dapat digolongkan sebagai tari hiburan/pertunjukan, karena penampilan tari tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu. Tari Saman dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau perayaan-perayaan lainnya. Untuk tempatnya, tari Saman biasa dilakukan di rumah, lapangan, dan ada juga yang menggunakan panggung.

Tari Saman biasanya ditampilkan dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja sama dengan baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis.

Makna dan Fungsi
Tari Saman dijadikan sebagai media dakwah. Sebelum Saman dimulai, tampil pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat. Pemuka adat memberikan nasehat-nasehat yang berguna kepada para pemain dan penonton. Syair-syair yang di antunkan dalam tari Saman juga berisi petuah-petuah dan dakwah.
Berikut contoh sepenggal syair dalam tari Saman:
Reno tewa ni beras padi, manuk kedidi mulu menjadi rempulis bunge.
Artinya:
Betapa indahnya padi di sawah dihembus angin yang lemah gemulai. Namun begitu, burung kedidi yang lebih dulu sebagai calon pengantin serta membawa nama yang harum.
Namun dewasa ini, fungsi tarian saman menjadi bergeser. Tarian ini jadi lebih sering berfungsi sebagai media hiburan pada pesta-pesta, hajatan, dan acara-acara lain.

Nyanyian
Pada tari Saman, terdapat 5 macam nyanyian :
1. Rengum, yaitu sebagai pembukaan atau mukaddimah dari tari Saman (yaitu setelah dilakukan sebelumnya keketar pidato pembukaan). Rengum ini adalah tiruan bunyi. Begitu berakhir langsung disambung secara bersamaan dengan kalimat yang terdapat didalamnya, antara lain berupa pujian kepada seseorang yang diumpamakan, bisa kepada benda, atau kepada tumbuh-tumbuhan.
2. Dering, yaitu rengum yang segera diikuti oleh semua penari.
3. Redet, yaitu lagu singkat dengan suara pendek yang dinyanyikan oleh seorang penari pada bagian tengah tari.
4. Syek, yaitu lagu yang dinyanyikan oleh seorang penari dengan suara panjang tinggi melengking, biasanya sebagai tanda perubahan gerak.
5. Saur, yaitu lagu yang diulang bersama oleh seluruh penari setelah dinyanyikan oleh penari solo.

Gerakan
Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian saman: Tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, syeikh saman mempelajari tarian melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kekinian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.
Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, seperti gerak guncang, kirep, lingang, surang-saring (semua gerak ini adalah bahasa Gayo). Selain itu, ada 2 baris orang yang menyanyi sambil bertepuk tangan dan semua penari Tari Saman harus menari dengan harmonis. Dalam Tari Saman biasanya, temponya makin lama akan makin cepat supaya Tari Saman menarik.
Penari
Pada umumnya, tari Saman dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki. tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Pendapat Lain mengatakan tarian ini ditarikan kurang dari 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Namun, perkembangan di era modern menghendaki bahwa suatu tarian itu akan semakin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Di sinilah peran Syeikh, ia harus mengatur gerakan dan menyanyikan syair-syair tari Saman.

Kostum atau busana khusus saman terbagi dari tiga bagian yaitu:
· Pada kepala: bulung teleng atau tengkuluk dasar kain hitam empat persegi. Dua segi disulam dengan benang seperti baju, sunting kepies.
· Pada badan: baju pokok/ baju kerawang (baju dasar warna hitam, disulam benang putih, hijau dan merah, bahagian pinggang disulam dengan kedawek dan kekait, baju bertangan pendek) celana dan kain sarung.
· Pada tangan: topeng gelang, sapu tangan. Begitu pula halnya dalam penggunaan warna, menurut tradisi mengandung nilai-nilai tertentu, karena melalui warna menunjukkan identitas para pemakainya. Warna-warna tersebut mencerminkan kekompakan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian dan keharmonisan.
Tari saman memang sangat menarik. Pertunjukkan tari Saman tidak hanya populer di negeri kita sendiri, namun juga populer di mancanegara seperti di Australia dan Eropa. Baru-baru ini tari saman di pertunjukkan di Australia untuk memperingati bencana besar tsunami pada 26 Desember 2006 silam. Maka dari itu, kita harus bangga dengan kesenian yang kita miliki, dan melestarikannya agar tidak punah.
read more...

Sejarah Tari Jaipong

Kesenian Tradisional Jawa Barat

Jaipongan adalah sebuah genre seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman asal Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan. Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.


MENYEBUT Jaipongan sesungguhnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sejarah

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu/Doger/Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini. Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Kemunculan tarian karya Gugum Gumbira pada awalnya disebut Ketuk Tilu perkembangan, yang memang karena dasar tarian itu merupakan pengembangan dari Ketuk Tilu. Karya pertama Gugum Gumbira masih sangat kental dengan warna ibing Ketuk Tilu, baik dari segi koreografi maupun iringannya, yang kemudian tarian itu menjadi populer dengan sebutan Jaipongan.

Ciri khas Jaipongan gaya kaleran, yakni keceriaan, erotis, humoris, semangat, spontanitas, dan kesederhanaan (alami, apa adanya). Hal itu tercermin dalam pola penyajian tari pada pertunjukannya, ada yang diberi pola (Ibing Pola) seperti pada seni Jaipongan yang ada di Bandung, juga ada pula tarian yang tidak dipola (Ibing Saka), misalnya pada seni Jaipongan Subang dan Karawang. Istilah ini dapat kita temui pada Jaipongan gaya kaleran, terutama di daerah Subang. Dalam penyajiannya, Jaipongan gaya kaleran ini, sebagai berikut: 1) Tatalu; 2) Kembang Gadung; 3) Buah Kawung Gopar; 4) Tari Pembukaan (Ibing Pola), biasanya dibawakan oleh penari tunggal atau Sinden Tatandakan (serang sinden tapi tidak bisa nyanyi melainkan menarikan lagu sinden/juru kawih); 5) Jeblokan dan Jabanan, merupakan bagian pertunjukan ketika para penonton (bajidor) sawer uang (jabanan) sambil salam tempel. Istilah jeblokan diartikan sebagai pasangan yang menetap antara sinden dan penonton (bajidor).

Perkembangan Tari Jaipong
Karya Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari "Daun Pulus Keser Bojong" dan "Rendeng Bojong" yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan (putra dan putri). Dari tarian itu muncul beberapa nama penari Jaipongan yang handal seperti Tati Saleh, Yeti Mamat, Eli Somali, dan Pepen Dedi Kurniadi. Awal kemunculan tarian tersebut sempat menjadi perbincangan, yang isu sentralnya adalah gerakan yang erotis dan vulgar. Namun dari ekspos beberapa media cetak, nama Gugum Gumbira mulai dikenal masyarakat, apalagi setelah tari Jaipongan pada tahun 1980 dipentaskan di TVRI stasiun pusat Jakarta. Dampak dari kepopuleran tersebut lebih meningkatkan frekuensi pertunjukan, baik di media televisi, hajatan maupun perayaan-perayaan yang diselenggarakan oleh pihak swasta dan pemerintah.
Kehadiran Jaipongan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap para penggiat seni tari untuk lebih aktif lagi menggali jenis tarian rakyat yang sebelumnya kurang perhatian. Dengan munculnya tari Jaipongan, dimanfaatkan oleh para penggiat seni tari untuk menyelenggarakan kursus-kursus tari Jaipongan, dimanfaatkan pula oleh pengusaha pub-pub malam sebagai pemikat tamu undangan, dimana perkembangan lebih lanjut peluang usaha semacam ini dibentuk oleh para penggiat tari sebagai usaha pemberdayaan ekonomi dengan nama Sanggar Tari atau grup-grup di beberapa daerah wilayah Jawa Barat, misalnya di Subang dengan Jaipongan gaya "kaleran" (utara).

Perkembangan selanjutnya tari Jaipongan terjadi pada taahun 1980-1990-an, di mana Gugum Gumbira menciptakan tari lainnya seperti Toka-toka, Setra Sari, Sonteng, Pencug, Kuntul Mangut, Iring-iring Daun Puring, Rawayan dan tari Kawung Anten. Dari tarian-tarian tersebut muncul beberapa penari Jaipongan yang handal antara lain Iceu Effendi, Yumiati Mandiri, Miming Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Dinar, Ega, Nuni, Cepy, Agah, Aa Suryabrata dan Asep.

Dewasa ini tari Jaipongan boleh disebut sebagai salah satu identitas keseniaan Jawa Barat, hal ini nampak pada beberapa acara-acara penting yang berkenaan dengan tamu dari negara asing yang datang ke Jawa Barat, maka disambut dengan pertunjukan tari Jaipongan. Demikian pula dengan misi-misi kesenian ke manca negara senantiasa dilengkapi dengan tari Jaipongan. Tari Jaipongan banyak mempengaruhi kesenian-kesenian lain yang ada di masyarakat Jawa Barat, baik pada seni pertunjukan wayang, degung, genjring/terbangan, kacapi jaipong, dan hampir semua pertunjukan rakyat maupun pada musik dangdut modern yang dikolaborasikan dengan Jaipong.
read more...

Kamis, 03 Maret 2011

Manusia Dan Harapan

Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.

Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya. Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.

Menurut kodratnya manusia itu adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia langusung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Tidak ada satu manusiapun yang luput dari pergaulan hidup. Ditengah – tengah manusia lain itulah, seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/ spiritualnya. Ada dua hal yabg mendorong orang hidup bergaul dengan manusia lain, yakni dorongan kodrat dan dorongan kebutuhan hidup.

Dorongan kodrat
Kodrat ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam din manusia sejak manusia itu diciptakan oleh Tuhan. Misalnya menangis, bergembira, berpikir, berjalan, bcrkata, mempunyai keturunan dan sebagainya. Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk itu semua.

Dorongan kodrat menyebabkan manusia mempunyai keinginan atau harapan, misalnya menangis, tertawa, bergembira, dan sebagainya. Seperti halnya orang yang menonton Pertunjukan lawak, mereka ingin tertawa, pelawak juga mengharapkan agar penonton tertawa terbahak-bahak. Apabila penonton tidak tertawa, harapan kedua belah pihak gagal, justru sedihlah mereka.

Dorongan kebutuhan hidup
Sudah kodrat pula bahwa manusia mempunyai bennacani-macant kebutuhan hidup. Kebutuhan hidup itu pada garis besamya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani

Untuk memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan manusia lain. Hal ini disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik/jasmaniah maupun kemampuan berpikirnya.

Keamanan
Setiap orang membutuhkan keamanan. Sejak seorang anak lahir ia telah membutuhkan keamanan. Begitu lahir, dengan suara tangis, itu pertanda minta perlindungan. Setelah agak besar, setiap anak menangis dia akan diam setelah dipeluk oleh ibunya. Setelah bertambah besar ia ingin dilindungi. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi rasa aman.

Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
Tiap orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula kesadaran akan hak dan kewajiban. Karena itu tidak jarang anak-anak remaja mengatakan kepada ayah atau ibu. “Ibu ini kok menganggap Reny masih kecil raja, semua diatur!” Itu suatu pertanda bahwa anak itu telah tambah kesadaran akan hak dan kewajibannya.

Status
Setiap manusia membutuhkan status. Siapa, untuk apa, mengapa manusia hidup. Dalam lagu “untuk apa” ada lirik yang berbunyi “aku ini anak siapa, mengapa aku ini dilahirkan”. Dan bagian lirik itu kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa setiap manusia yang lahir di bumi ini tentu akan bertanya tentang statusnya. Status keberadaannya. Status dalam keluarga, status dalam masyarakat, dan status dalam negara. Status itu penting, karena dengan status orang tahu siapa dia.

Perwujudan cita-cita
Selanjutnya manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau kepangakatannya atau profesinya. Pada saar itu manusia mengembangkan bakat atau kepandaiannya agar ia diterima atau diakui kehebatannya.

Kebenaran
Kebenaran atau benar amat penting bagi manusia. Setiap orang mendambakannya, karena ia mempunyai anti khusus bagi hidupnya. la merupakan fokus dari segala pikiran, sikap dan perasaan.
read more...

Manusia dan Kegelisahan

Kegelisahan berasal dari kata gelisah yang beraru tidak tenteram hatinya selalu merasa khawatir , tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hari maupun perbuatannya, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya tidak sabar ataupun dalam kecemasa.
Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situasi tertentu gejala tingkah laku atau gerak gerik tersebut ymuknya lain dari bisasanya mialnya berjalan mondar mandir dalam ruangan tertenty sambil menundukkannya kepadalnya memandang jauuh kedeoan sambil mengeoalkan tangannya duduk termenung sambil memegang kepalanya duduk dengan wajah murung atau sayu, malas bicara dan lain lain
Kegelisahan merupakan salah satu ekspresu dari keemasan karena itu dalam kehidupn sehari hari, kegelisahan juga diartikan sebagai kecemasan kekhawatiran ataupunk ketakutan definisi dapat disebutkan, bahwa seseornng memngalami frustaasu karena aa yang didingainkannya tidak tercapata
Sigmeund freud ahli psikoanalisa berpendapat bawa ada tiga macam kecemasan yang menimpa mansusia yaitu kecemasan kenyataan (objektid) kecemasan neurotic dan kecemasan moril
a. Kecemasaan Objektif
Kecematan tentang kenyataaan adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau suatu bhaya dalam dunia luar bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorangyang mengancam ntuk mencelakaakaknnya pengalaman bahaya mewarisi kecenderungannya untuk menjadi takut kalau berada dekat benda benda tertentu atau keadaan tertentu di lingkungannya.
For ex jikaseorang wanita yang pernah trauma dengan kecoa, maka dia akan cenderung takut jika melihat kecoa. Namun ada orang dengan reaksi membalik. Karena ia mendendam maja ua berusaha selalu untuk ganti berbuat kejam sebagi pelampiasannya. Misalnya seperti ayng ada di Film Forbidden Party, a.k.a Invitation only.
b. Kecemasan Nerotis (Syaraf)
Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya yang naluriah. menurut Sugmund Freud kecemasan ini dibagi menjadi tiga macam.
Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan kecemasan timbul karena orang itu takut akan bayangannya sendiri atau takut akan id nya sendiri, sehingga menekan dan menguasai ego. Kecemasan semacam ini menjadi sifat dari seorang yang gelusan , yang selalu mengira bahwa sesuatu yang hebat terjaid.
c. Kecemasaan Moril
Kecemasan moril sidebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam macam emosi antara lain: iri, benci dendam dengki dan marah gelisah cinta dan rasa kurnag percaya diri.
Misalnya seseorang yang merasa dirinya kurang canntik maka dalam pergaulannya ia terbatas kalau tidak tersisihkan sementara itu ia pun tidak berprestasi dalam berbagai kegiatan segingga kawan kawannya lebih diniliai sebagai lawan. Ketidakmampuannya menimbulakan kecemasan moril
B. Sebab Sebab orng Gelisah
Sebab sebab orang gelisah pada dasarnya adalah karena takut kehilangan hak nya
Hal itu adalah akibat dari ancaman, ntah ancaman dari dalam maupun ancaman dari luar.
read more...

Manusia dan Tanggung Jawab

Sebagai manusia yang mempunyai nilai dan harga diri (ciri-ciri manusia modern) seseorang dituntut untuk memiliki rasa tanggungjawab akan apa yang telah dilakukannya. Walaupun seseorang itu berada dalam masyarakat tradisional (Gemeinschaft) dia dituntut untuk memiliki sebentuk tanggungjawab seperti seorang kepala suku yang diharuskan untuk mengorganisir perluasan wilayah untuk perburuan, mengkoordinasi warga dalam menghadapi kelompok lain, memimpin perburuan dan sebagai ketua peradilan untuk menyelesaikan konflik antar warganya menurut adat dan norma-norma kesukuannya. Begitu juga bila seseorang tersebut berada dalam masyarakat modern (Gesselschaft), dia dituntut untuk memiliki tanggungjawab dengan contoh kecil seorang pemuda yang dituntut pertanggungjawabannya karena melakukan seks bebas dengan pacarnya sehingga hamil (Married By Accident), hal ini dikarenakan dirinya sudah tercebur kedalam bentuk pergaulan bebas ‘ala Barat’ (western) sehingga pihak keluarga perempuan menuntut pertanggung jawaban si laki-laki agar tidak dikenai etika kehidupan bersosial baik itu tertulis maupun tak tertulis maupun hukum pidana, begitu juga dengan penulis yang merasa bertanggung jawab mengembalikan data aplikasi dan software Handphone milik adik penulis yang sempat terhapus karena kelalaian penulis sehingga marasa bertanggung jawab dengan membeli aplikasi/software yang diperlukannya di counter-counter Handphone yang ada.
Pengabdian dapat juga diartikan sebagai pilihan hidup seseorang apakah ingin mengabdi kepada orangtua, kepada agama dan Tuhan ataupun kepada bangsa dan negara dimana pengabdian akan mengandung unsur pengorbanan dan kewajiban untuk melakukannya yang biasanya akan dihargai dan tergantung dari apa yang diabdikannya. Sebagai contoh, bila orang tua mengabdi untuk mengasuh anak-anaknya berkemungkinan besar nanti anak-anaknya akan berbakti juga kepada kedua orangtuanya, biarawan/wati yang mengabdi kepada agama dan Tuhannya nantinya akan dibalas amalannya di surga, ataupun pengabdian seorang pegawai negeri pada bangsa dan negaranya biasanya akan diberi semacam penghargaan/tanda jasa dari negara yang bersangkutan.
read more...

Pandangan Hidup Manusia

Pandangan hidup merupakan sesuatu yang sulit untuk dikatakan, sebab kadang-kadang pandangan hidup hanya merupakan suatu idealisme belaka yang mengikuti kebiasaan berpikir didalam masyarakat. Pandangan hidup juga bisa diimplementasikan sebagai hasil-hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman, fakta, dan sikap meyakini sesuatu yang diringkas sebagai pegangan, pedoman, petunjuk, atau arahan.
Pandangan hidup sangat bermanfaat bagi kehidupan individu, masyarakat, atau negara. Segala perbuatan, sikap, dan aturan –yang diwujudkan dalam berbagai bentuk, merupakan refleksi dari pandangan hidup yang telah dirumuskan. Pandangan hidup sering disebut filsafat hidup. Filsafat hidup sendiri diarti-konkritkan sebagai kecintaan atau kebenaran yang bisa dicapai oleh siapapun. Maka dari itu, pandangan hidup dengan hakikat bisa dicapai oleh siapapun itu, sangat diperlukan oleh tiap manusia. Pandangan hidup tiap orang bisa berbeda bisa juga sama. Dari situ terdapat pengklasifikasian tentang asal dari pandangan hidup tersebut, sebagai berikut:
a.Pandangan hidup berasal dari agama merupakan pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
b.Pandangan hidup ideologi merupakan pandangan hidup yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma
negara tersebut.
c.Pandangan hidup hasil renungan merupakan pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
           Pandangan hidup pada dasarnya memiliki unsur-unsur, yaitu cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan. Cita-cita adalah sesuatu yang ingin digapai oleh manusia melalui usaha. Kebajikan dalam hal ini, adalah nilai yang menjadi patokan usaha yang harus ditempuh untuk menggapai cita-cita. Usaha adalah hal-hal yang diupayakan sebaik mungkin untuk menggapai cita-cita yang harus dilandasi oleh keyakinan . Keyakinan diukur dengan daya pikir akal, jasmani, dan sikap maupun rasa kepada Tuhan. Hal ini yang mencirikan bahwa unsur-unsur pandangan hidup di atas saling berkaitan. Setiap orang, baik dari tingkatan yang paling rendah sampai dengan tingkatan yang paling tinggi, mempunyai cita-cita hidup. Hanya kadar cita-citanya sajalah yang berbeda. Bagi orang yang kurang kuat imannya ataupun kurang luas wawasannya, apabila gagal mencapai cita-cita, tindakannya biasanya mengarah pada hal-hal yang bersifat negative. Suatu ironi memang, bila manusia sedang dalam keadaan senang, bahagia, serta kecukupan, mereka lupa akan pandangan hidup yang diikutinya dan berkurang rasa pengabdiannya kepada Sang Pencipta. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Kurangnya penghayatan pandangan hidup yang diyakini.
b. Kurangnya keyakinan pandangan hidupnya.
c. Kurang memahami nilai dan tuntutan yang terkandung dalam pandangan hidupnya.
d.Kurang mampu mengatasi keadaan sehingga lupa pada tuntutan hidup yang ada dalam pandangan
hidupnya.
e. Sengaja melupakannya demi kebutuhan diri sendiri.
Di sinilah peranan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang teguh merupakan pelindung seseorang. Dengan memegang teguh pandangan hidup yang diyakini, seseorang tidak akan bertindak sesuka hatinya. Ia tidak akan gegabah bila menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan, serta kesulitan yang dihadapinya.
          Sebagai tambahan, apabila pandangan hidup tesebut diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu organisasi, maka pandangan hidup tersebut akan menjadi ideologi. Dan jika itu berkembang lagi, hingga lingkup kerakyatan atau negara maka disebut ideologi negara.
1. Cita-cita
Cita-cita menurut definisi adalah keinginan, harapan, atau tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Tidak ada orang hidup
tanpa cita-cita, tanpa berbuat kebajikan, dan tanpa sikap hidup.
Cita-cita itu perasaan hati yang merupakan suatu keinginan yang ada dalam hati. Cita-cita yang merupakan bagian atau salah satu unsur dari pandangan hidup manusia, yaitu sesuatu yang ingin digapai oleh manusia melalui usaha. Sesuatu bisa disebut dengan cita-cita apabila telah terjadi usaha untuk mewujudkan sesuatu yang dianggap cita-cita itu.
2. Kebajikan atau Kebaikan
Kebajikanatau kebaikan pada hakikatnya adalah perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan norma-norma agama atau etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik dan makhluk bermoral. Dia adalah seorang individu yang utuh, terdiri atas jiwa dan raga. Dia memiliki hati yang pada hakikatnya lagi, memihak pada kebenaran dan selalu mengeluarkan pendapat sendiri tentang pribadinya, perasaannya, cita-citanya, dan hal-hal lainnya. Dari yang dirasakan manusia tersebut, manusia cenderung lebih memihak pada kebaikan untuk dirinya sendiri. Inilah yang membuat sebagian manusia ‘terpilah’ menjadi manusia egois, yang seringkali seperti tidak mengenal kebajikan.
Untuk melihat apa itu kebajikan, kita harus melihat dari 3 segi, yaitu :
a. Manusia sebagai pribadi, yang menentukan baik-buruknya adalah suara hati.
b. Manusia sebagai anggota masyarakat atau makhluk sosial, manusia hidup bermasyarakat, saling membutuhkan, saling menolong, dan saling menghargai anggota masyarakat  
c. Manusia sebagai makhluk Tuhan
         Kebajikan manusia nyata dan dapat dirasakan dalam tingkah lakunya. Karena tingkah laku bersumber dari pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri. Terdapat tiga hal yang menjadi faktor yang mungkin dapat menjadikan seorang individu memiliki sikap tertentu, yaitu:
a.Pembawaan (hereditas) , sesuatu yang diturunkan dari orang tua pada anaknya.
b.Lingkungan, merupakan alam kedua yang melingkupi manusia dan di situ manusia baru akan terdidik dengan sendirinya agar bisa melanjutkan hidup.
c.Pengalaman, merupakan segala sifat dari keadaan-keadaan, baik itu manis ataupun pahit yang dirasakan dan cenderung sering terbesit di pikiran manusia.
3. Usaha atau Perjuangan
Usahaatau perjuangan adalah bentuk kerja keras untuk mewujudkan tujuan atau cita-cita. Tanpa adanya usaha, hidup manusia tak ada artinya. Manusia diciptakan berakal dan berindra, di mana apa yang dititipkan-Nya harus dipotensialkan sesuai kemampuannya.
4. Keyakinan atau Kepercayaan
Keyakinanatau kepercayaan berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan.
           Manusia memiliki pandangan hidup yang berbeda-beda dalam meraih tujuan atau cita-cita masing-masing. Pandangan hidup ini mau tidak mau akan menjadi pedoman untuk mengantarkan mereka pada tujuan atau cita-cita tersebut. Maka yang sebaiknya dilakukan manusia adalah memikirkan, merancang, atau menentukan langkah- langkah berpandangan hidup yang baik
read more...

Manusia Yang Adil

Guru fiqh saya waktu SMP pernah menyampaikan’wejangan’kepa para muridnya agar kelak jangan menjadi Hakim.Salah satu argumen yang di jadikan alasan adalah’Manusia tidak dapat berbuat adil’ dan hakim itu sangat dekat dengan api neraka.Tentu saja yang dipesankan guru saya itu kami terima dengan seratus persen,tanpa ada rasa ingin mendebat sedikpun,karena murid pada waktu itu tidak diajarkan ìlmu cara’kurang ajar’kepada guru.Tetapi belakangan wejangan itu sempat kami perdebatkan(tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada kepada guru fiqh kami).
Benarkah manusia tidak dapat berbuat adil?seperti apakah adil itu? Adalah dua dari banyak pertanyaan yang muncul dibenakku.
Dimasa lalu kita seringkali melakukan kesalahan paradigma,kita kadang mengukur besaran manusia dengan menggunakan alat ukur Tuhan.Ketika di ajukan tentang manusia adil maka pikiran kita ‘adil’seperti adilnya Tuhan atau adil yang hakiki,menurut saya itu salah.
Jadi manusia dapat berbuat adil.Baik adil model sosialis(sama rata sama rasa) maupu adil berdasarkan kontribusi perorangan.Karena jika manusia tidak dapat berbuat adil pasti Tuhan tidak akan pernah memerintah manusia untuk berbuat adil,ya kan?,contoh dalam masalah poligami,kelompok yang menentang poligami selalu menyampaikan alasan bahwa lelaki tidak dapat berbuat adil kepada istri yang lebih dari satu.Menurut saya pendapat itu salah,karena lelaki dapat berbuat adil kepada semua istrinya dalam ukuran yang manusiawi.
Khusus untuk poligami saya punya alasan tambahan,Saya termasuk orang yang’Setuju’dengan Poligami habis uenak sih… ha…ha…ha…ha…!
read more...

Studi Kasus Manusia dan Penderitaan

  • Penderitaan
Penderitaan berasal dari kata derita, derita berasal dari bahasa sansekerta, dhra yang berarti menahan atau menanggung. Sedangkan menurut kamus besar Bahasa indonesia derita artinya menanggung (merasakan) sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.

Penderitan termasuk realitas dunia dan manusia. Itenitas penderitaan bertingkat – tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat tidaknya itensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bengkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
  • Siksaan  
Penderitaan biasanya disebabkan oleh siksaan, Siksaan biasa dirasakan pada badah atau jasmani, dan juga dapat berupa siksaan jiwa atau rohani. 
Masalah siksaan jiwa atau rohani (psikis) yang akan diuraikan dalam Ilmu Budaya Dasar, antara lain :
  • Kebimbangan 
Kebimbangan pasti akan dialami ketika seseorang dihadapkan oleh dua pilihan yang penting yang ia tidak dapat menentukan pilihan yang mana yang akan diambil.
  • Kesepian 
Kesepian dialami seseorang berupa rasa sepi dalam dirinya atau jiwanya, hal ini akan terus ia rasakan walaupun ia dalam lingkungan orang ramai. Ini yang perlu dianalisa pertama kali. Perbedaan antara kesepian dengan kesendirian. Kesepian itu perasaan sepi. Sendirian itu ketika seseorang dalam keadaan sendiri. Kesepian bisa berarti seperti “ayam kelaparan di lumbung padi”. Banyak orang di sekitarnya tetapi tetap merasa sepi. Sedangkan sendirian dalam keadaan sendiri, tetapi tidak merasa sepi.
  •  Ketakutan
Ketakutan (fobia) adalah kecemasan yang luar biasa, terus menerus dan tidak realistis, sebagai respon terhadap keadaan eksternal tertentu.   Fobia adalah rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap Fobia sulit dimengerti.  
  • Kekalutan Mental 
Secara sederhana, kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan/psikis akibat ketidakmampuan seseorang dalam mengatasi persoalan hidup yang harus dijalaninya. Sehingga yang bersangkutan bertingkah secara kurang wajar.
Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental  yaitu : 
  • Kepribadian yang lemah atau kurang percaya diri sehingga menyebabkan yang bersangkutan merasa rendah diri, ( orang-orang melankolis)
  • Terjadinya konflik sosial – budaya akibat dari adanya norma yang berbeda antara dirinya dengan lingkungan masyarakat.
  • Pemahaman yang salah sehingga memberikan reaksi berlebihan terhadap kehidupan sosial (overacting) dan juga sebaliknya terlalu rendah diri (underacting). 
Gejala permulaan bagi seseorang yang mengalami kekalutan mental adalah :
  • Nampak pada jasmani yang sering merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
  • Nampak pada kejiwaannya dengan rasa cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu, mudah marah

Tahap-tahap gangguan kejiwaan adalah :
  •  Gangguan kejiwaan nampak pada gejala-gejala kehidupan si penderita baik jasmana maupun rohani
  •  Usaha mempertahankan diri dengan cara negatif
  •  Kekalutan merupakan titik patah (mental breakdown) dan yang bersangkutan mengalami gangguan
  • Penderitaan & Perjuangan
Setiap manusia pasti mengalami penderiataan, baik berat ataupun ringan. Penderitaan adalah bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati. Karena itu terserah kepada manusai itu sendiri untuk berusaha mengurangi penderitaan itu semaksimal mungkin, bahkan menghindari atau menghilangkan sama sekali. Manusia adalah mahluk berbudaya, dengan budayanya itu ia berusaha mengatasi penderitaan yg mengancam atau dialaminya. Hal ini membuat manusia itu kreatif, baik bagi penderita maupun bagi orang lain yang melihat atau mengamati penderitaan tersebut.


  • Studi Kasus 

VIVAnews - Kematian Jang Ja Yeon sangat menyita perhatian publik Korea Selatan. Maklum saja, artis cantik ini adalah pendatang baru di dunia panggung hiburan negeri Ginseng tersebut. Jang Ja Yeon ditemukan tewas bunuh diri di rumahnya. Tewasnya Jang Ja Yeon itu menjadi pembicaraan bukan karena kematiannya saja yang sangat mengenaskan. Dia juga membawa beberapa nama orang penting dalam bisnis hiburan negara tersebut yang bertanggung jawab atas keputusannya mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.

Jang Ja Yeon menulis alasannya bunuh diri karena adanya eksploitasi dan juga pelecehan seksual yang dialaminya selama berkarir di dunia hiburan negara tersebut.

Dalam tujuh catatan yang dibuat artis yang bermain di serial 'Boys Before Flowers' sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya, menceritakan betapa kejamnya dunia hiburan tanah air. Dia diduga dipaksa menjadi budak seks untuk orang-orang kaya di sana demi memuluskan karirnya sebagai artis.

Jang Ja Yeon dikenal setelah kemunculannya sebagai bintang iklan televisi. Pada saat artis cantik itu meninggal dia sebenarnya sedang menunggu rilis dua filmnya. Hampir tujuh juta fans yang membuka websitenya setelah dua hari artis cantik itu meninggal pada 7 Maret 2009 lalu.


Opini :
sebagai makhluk ciptaan Allah SWT kita hendaknya selalu mendekatkan diri padaNya ,agar terhindar dari segala macam penderitaan. mungkin itu jalan terbaik untuk masalah ini, karena penderitaan seperti kekalutan mental ini sebenarnya kita sendiri yang menyebabkan itu semua bisa menimpa diri kita.


dari studi kasus diatas juga dapat diambil kesimpulannya ,kita sebagai mahluk sosial jika sedang mengalami masalah seberat apapun itu setidaknya kita saling share dengan teman mungkin , karena mungkin saja mereka bisa membantu kita. sehingga tidak kejadian seperti kasus bunuh diri seperti diatas.
read more...

Definisi Dari Keindahan dan Manusia

keindahan itu adalah definisi yang menjadi sangat valid bila dan hanya bila terkait kepada sesuatu yg kita tidak miliki, Keindahan hanya sebuah konsep, yang baru bisa dikomunikasikan setelah mempunyai bentuk yng kongkrit
 Keindahan berasal dari kata indah, yang artinya bagus, permai, cantik, dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indahl, pemandangari alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, peralatan rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran.
Selain itu menurut luasnya dibedakan pengertian:
1. Keindahan dalam arti luas.
Selanjutnya The Liang Gie menjelaskan.bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan.. Jadi pengertian keindahan dalam arti luas bisa dibagi lagi menjadi :
· keindahan seni : keindahan yang berhubungan dengan hasil karya manusia contoh: guci.lukisan dan ukiran
· keindahan alam: keindahan alam berasal Tuhan manusia tidak dapat membuat keindahan alam manusia hanya dapat menjaga keindahan alam agar tetap tarjaga contoh:air terjun,perbukitan,dan pegunungan
· keindahan moral : keindahan yang berhubungan dengan sikap dan kesopanan dalam berprilaku sesorang
· keindahan intelektual.: keindahan yang berhubungan dengan pola dan cara berfikir seseorang dalam menyikapi suatu masalah
2. Keindahan dalam arti estetik murni
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dellgan se:gala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
Keindahan dalam arti lebih sempit bisa diartikan sehingga hanya menyangkut benda-benda yang dapat dilihat dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata.
Hal itu berarti, bahwa nilai adalah semata-mata adalah realita psikologi yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada hendaknya itu sendiri. Nilai itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak kebenarannya.
Nilai itu ada yang membedakan antara nilai subyektif dan obyektif, Tetapi penggolongan yang penting ialah:
- Nilai ekstrinsik
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (“instrumental! Contributory value”), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu contohnya bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik
- Nilai intrinsik
Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Contohnya : pesan puisi yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut nilai intrinsik . Pengelompokan-pengelompokan pengerian keindahan
Definisi keindahan menurut para ahli :
1. Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sarna lain, atau dengan keseluruhan itu sendiri. Atau, beauty is an order of parts in their manual relations and in their relation to the whole (Baumgarten).
2. Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik ciptaan itu belumlah indah. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral (Sulzer).
3. Yang indah adalah yang rnemiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang harrnonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Jadi, yang indah adalah nyata dan yang nyata adalah yang baik (Shaftesbury). .
4. Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang (Hume).
5. Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang, dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengalaman yang menyenangkan (Hemsterhuis).
Dengan melihat demikian beragamanya pengertian keindahan, dan kita harus percaya bahwa yang di atas itu hanyalah sebagian kecil, boleh jadi akan rnengeeewakan kita yang menuntut adanya satu pengertian yang tunggal tapi yang memuaskan. Namun demikian, dari berbagai pengertian yang ada, sebenarnya, kita bisa menempatkannya dalam kelompok-kelompok pengertian tersendiri, Pengelompokan-pengelompokan yang bisa kita buat adalah sebagai berikut :
1. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada titik pijak atau landasannya.
Di sini keindahan diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penikmat dan penghayat (subyek) tanpa dicampuri keinginan-keinginan yang bersifat praktis, atau kebutuhan·kebutuhan pribadi si penghayat.
2. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada cakupannya.
Dalam pengelmpokan pengertaian keindahan membedakan keindahan berdasarkan cakupannya yaitu antara keindahan sebagai kualitas abstrak dan keindalan sebagai sebuah benda tertentu yang memang indah.
3. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar luas-sempitnya.
Dalam pengelompokan ini kita bisa membedakan antara pengertian keindahan dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti yang terbatas. Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan. Untuk ini bisa dilihat misalnya dari pemikiran Plato, yang menyebut adanya watak yang indah dan hukum yang indah: Aristoteles yang melihat keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
Dari apa yang dikemukakan di atas, ada hal bisa kita petik, yaitu: Pertama, keindahan menyangkut persoalan filsafati, sehingga jawaban terhadap apa itu keindahan sudah barang tentu bisa bermacam-macam. Kedua, keindahan sebagai pengertian mempunyai makna yang relatif, yaitu sangat tergantung kepada subyeknya.
Pengertian keindahan tidak hanya terbatas pada kenikmatan penglihatan semata-mata, tetapi sekaligus kenikmatan spiritual. Itulah sebabnya Al-Ghazali memasukkan nilai-nilai spiritual, moral dan agama sebagai unsur-unsur keindahan, di samping sudah . barang. tentu unsur-unsur yang lain.
Alasan Manusia Mencipta Keindahan
Keindahan itu pada dasamya terbentuk secara alamiah. Semua Alam itu diciptakan oleh Tuhan. Maka dapat diambil kesimpulam bahwa smua keindahan yang dapat kita nikmati selama ini adalah  ciptaan Tuhan. Alamiah itu artinya wajar, tidak herlebihan tidak pula kurang.
Maka keindahan berasal dari kata indah berarti bagus, permai, cantik, molek dan sebagainya. Benda yang mengandung keindahan ialah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan Tuhan. Sangat luas kawasan keindahan bagi manusia. Karena itu kapan, di mana, dan siapa saja dapat menikmati keindahan.
Hubungan manusia dan keindahan
manusia memiliki lima komponen yang secara otomatis dimiliki ketika manusia tesebut dilahirkan. Ke-lima komponen tersebut adalah nafsu, akal, hati, ruh, dan sirri (rahasia ilahi). Dengan modal yang telah diberikan kepada manusia itulah (nafsu, akal dan hati) akhirnya manusia tidak dapat dipisahkan dengan sesuatu yang disebut dengan keindahan. Dengan akal, manusia memiliki keinginan-keinginan yang menyenangkan (walaupun hanya untuk dirinya sendiri) dalam ruang renungnya, dengn akal pikiran manusia melakukan kontemplasi komprehensif guna mencari niolai-nilai, makna, manfaat, dan tujuan
dari suatu penciptaan yang endingnya pada kepuasan, dimana kepuasan ini juga merupakan salah satu indikator dari keindahan.
Akal dan budi merupakan kekayaan manusia tidak dirniliki oleh makhluk lain. Oleh akal dan budi manusia memiliki kehendak atau keinginan pada manusia ini tentu saja berbeda dengan “kehendak atau keinginan” pada hewan karena keduanya timbul dari sumber yang berbeda. Kehendak atau keinginan pada manusia bersumber dari akal dan budi, sedangkan kehendak atau keinginan pada hewan bersumber dari naluri.
Sesuai dengan sifat kehidupan yang menjasmani dan merohani, maka kehendak atau keinginan manusia itu pun bersifat demikian. Jumlahnya tak terbatas. Tetapi jika dilihat dari tujuannya, satu hal sudah pasti yakni untukmenciptakan kehidupan yang menyenangkan, yang memuaskan hatinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa “yang mampu menyenangkan atau memuaskan hati setiap manusia itu tidak lain hanyalah sesuatu yang “baik”, yang “indah”. Maka “keindahan pada hakikatnya merupakan dambaan setiap manusia; karena dengan keindahan tu itu manusia merasa nyaman hidupnya. Melalui suasana . keindahan itu perasaan “(ke) manusia (annya)” tidak terganggu.
Dengan adanya keinginan-keinginan tersebut, manusia menggunakan nafsunya untuk mendorong hasrat atau keinginan yang dipikirkan atau direnungkan oleh sang akal tadi agar bisa terrealisasikan. Ditambah lagi dengan anugrah yang diberikan-Nya kepada kita (manusia) yakni berupa hati, dimana dengan hati ini manusia dapat merasakan adanya keindahan, oleh karena itu manusia memiliki sensibilitas esthetis.
Selain itu manusia memang secara hakikat membutuhkan keindahan guna kesempurnaan pribadinya. Tanpa estetika manusia tidak akan sempurna, Karena salah satu unsur dari kehidupan adalah estetika. Sedang manusia adalah mahluk hidup, jadi dia sangat memerlukan estetika ini.
Renungan
Renung berarti diam-diam memikirkan sesuatu atau memikirkan sesuatu atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil merenung. Dalam merenung untuk menciptakan seni dan teori. Diantaranya teori pengungkapan, teori metafisik dan teori psikologik.
read more...

Pengertian Dari Cinta Kasih Terhadap Sesama Manusia

Pengertian Cinta Kasih

Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta, cinta adalah rasa sangat suka (kepada) atau (rasa) sayang (kepada), ataupun (rasa) sangat kasih atau sangat tertarik hatinya. Sedangkan kata kasih artinya perasaan sayang atau cinta kepada atau menaruh belas kasihan. Dengan demikian arti cinta dan kasih hampir bersamaan, sehingga kata kasih memperkuat rasa cinta, Karena itu cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka (sayang) kepada seseorang yang disertai dengan menaruh belas kasihan.

Walaupun cinta kasih mengandung arti hampir bersamaan, namun terdapat perbedaan juga antara keduanya. Cinta lebih mengandung pengertian mendalamnya rasa, sedangkan kasih lebih keluamya; dengan kata lain bersumber dari cinta yang mendalam itulah kasih dapat diwujudkan secara nyata.

Pengertian Kasih Sayang
Kata kasih dan sayang itu mengandung pengertian yang sangat luas. Dan yang pasti setiap insan manusia perlu tahu dan mengerti apa makna kasih sayang yang sebenarnya, sekaligus memilikinya di dalam sanubari. Seseorang akan terlanda kekeringan jiwa jika hidup tanpa memiliki kasih maupun sayang. Apapun yang terjadi, pasti dia akan selalu ingin cintai sekaligus mencintai orang lain. Dari pertama kali lahir di dunia sampai ajal menjemput.
Yang dimaksud dengan kasih dan sayang di sini bukan sekadar hubungan cinta atau asmara antara seorang laiki-laki dan perempuan saja. Namun lebih bersifat universal. Sehingga hal ini bisa terjadi terhadap sahabat, saudara, keluarga dan lain-lain. Dan yang perlu ditekankan adalah, bahwa kasih dan sayang yang tulus itu selalu punya sifat yang ikhlas dan lebih banyak memberi daripada menerima. Kepentingan diri sendiri sering dinomor duakan demi memberi kebahagiaan pada orang yang dikasih dan disayanginya.

Pengertian Belas Kasih
Belas kasih (composian)adalah kebajikan -satu di mana kapasitas emosional empati dan simpati untuk penderitaan orang lain dianggap sebagai bagian dari cinta itu sendiri, dan landasan keterkaitan sosial yang lebih besar dan humanisme-dasar ke tertinggi prinsi-prinsip dalam filsafat, masyarakat, dan kepribadian .
Ada aspek belas kasih yang menganggap dimensi kuantitatif, seperti individu belas kasih yang sering diberi milik  kedalaman,kekuatan atau gairah . Lebih kuat dari empati , merasakan umumnya menimbulkan aktif keinginan untuk meringankan penderitaan orang lain.. Hal ini sering, meskipun tidak pasti, komponen kunci dalam apa yang memanifestasikan dalam konteks sosial .Dalam etika istilah, berbagai ungkapan bawah usia yang disebut Golden Rule mewujudkan oleh implikasi prinsip kasih sayang: untuk orang lain apa yang Anda ingin mereka lakukan untuk Anda

Bentuk Wujud Cinta Kasih
Bentuk wujud cinta kasih manusia kepada penciptanya adalah pengabdian, kesetiaan, ketaatan dan sebagaimana. Sebagaimana keterikatan manusia kepada tuhannya. Sedangkan wujud cinta kasih makhluk hidup kepada sesamanya terbagi atas 3.
Pertama cinta philiayakni seperti cinta kepada saudara, cinta kepada orang tua, cinta kepada teman, cinta kepada sesama.
Yang kedua cinta eros yakni cinta yang menegakkan aspek ragawi (erotis).
Yang ketiga cinta amor yakni cinta yang menekankan aspek psikologis dan emosi.
Unsur cinta adalah keterikatan, keintiman dan kemesraan. Ketiganya menyatu dalam segitiga. Dan menjadi ketergantungan. Ketiga unsur cinta ini sama kuat. Namun jika ketiganya tidak sama-sama kuat akan mengakibatkan cinta yang hambar. Dan ada ketidak seimbangan antara yang satu dengan yang lainnya.
Sedangkan cinta kasih manusia kepada alam atau lingkungannya terwujud dalam bentuk menjaga lingkungan, menciptakan keserasian, keselarasan, keseimbangan dengan alam lingkungan sehingga dapat tercapai kehidupan yang aman dan tentram. Cinta kasih manusia kepada dirinya sendiri terwujud dalam bentuk menjaga dirinya sendiri unsur-unsur yang terdapat dalam cinta adalah simpati seperti kenal, tahu, pengertian, dan perhatian. dan emosi seperti pengorbanan, tanggung jawab, saling menghormati dan kasih sayang. Cinta kasih terjadi apabila perasaan simpati antara 2 subjek saling mengisi dan melengkapi sehingga terjadilah dinamika cinta. Setiap makhluk hidup memerlukan cinta dan kasih. Karena cinta dan kasih merupakan keperluan fundamental setiap makhluk hidup. Tanpa kita sadari dalam diri manusia terdapat cinta kasih. Emosi ini terjadi antara kita dan orang lain bahkan dengan ketidak sengajaan. Bahkan emosi ini juga terjadi antara manusia 1 kepada manusia lainnya yang belum kenal.
read more...

Melihat Kesenian Gandrung Banyuwangi Dari Berbagai Aspek

Pendidikan adalah sebuah sarana paling tepat untuk mengembangkan sebuah nilai akan budaya, orang yang terdidik akan dengan mudah untuk mempelajari sebuah konsep akan budaya. Gandrung, yang merupakan sebuah kesenian yang sudah mendapatkan pengakuan nasional maupun internasional perlu dikenalkan dan dikembangkan di

Gandrung Banyuwangi

lingkup sekolah sebagai upaya menanamkan rasa bangga dan cinta akan budaya local terhadap para siswa. Dengan ini diharapkan akan timbul sebuah rasa dan apresiasi yang tinggi serta membuat ketertarikan akan kesenian gandrung itu sendiri. Ini bisa dilakukan dengan memberikan mata pelajaran muatan local daerah, yakni gandrung sebagai mata pelajaran tambahan atau dengan memberikan ruang waktu agar gandrung bisa dipelajari lewat program ekstra kurikuler diluar jam pelajaran sekolah. Program ekstra kurikuler ini wajib ada di tiap sekolah yang ada di Banyuwangi bahkan tidak menutup kemungkinan juga diterapkan di Perguuruan Tinggi.

Dengan adanya program mata pelajaran dan ektrakurikuler gandrung, maka bukan tidak mungkin kesenian gandrung akan lebih dikenal dan eksistensinya tetap akan terjaga mengingat dunia pendidikan adalah dunia yang tidak akan pernah mati. Adanya sebuah kompetisi berupa perlombaan dan semacamnya tentang gandrung antar sekolah akan menambah minat dan antusias siswa dalam mengenal dan mempelajari gandrung. Sehingga para siswa akan berlomba dan bersaing untuk menjadi penari gandrung terbaik untuk menunjukkan dirinya layak menjadi duta sekolah dalam perlombaan tari gandrung.

Pelestarian Gandrung bisa dilakukan melalui pendidikan di sekolah-sekolah, dengan cara mereduksi Gandrung menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah. Guru mata pelajaran seni budaya dapat menyajikan pembelajaran seni Gandrung melalui proses pembelajaran apresiasi seni tradisi melalui seni rupa, seni tari, seni musik, dan seni teater.

Sekolah bisa menyelenggarakan program pentas Gandrung dalam kegiatan di sekolah. Pemerintah dan lembaga yang terkait dapat menyelenggarakan lomba menulis tentang Gandrung, lomba menggambar dan melukis Gandrung, pameran, pergelaran, sarasehan, dan apresiasi Gandrung di sekolah dan di lingkungan masyarakat, serta kegiatan-kegiatan kreatif dan inovatif lain yang bertujuan melestarikan kesenian Gandrung. Akhirnya Gandrung tidak usah dan tidak perlu dibandingkan dengan acara TV yang tidak jelas. Itu kalau kita tidak ingin dikatakan sebagai orang yang mempunyai tingkat apresiasi rendah terhadap kebudayaan dan kesenian kita sendiri.

Dari Segi Ekonomi

Gandrung modern merupakan bentuk gandrung yang sudah berubah bentuk dari kesenian tradisional yang berorientasi kepada tradisi dan adat menjadi gandrung yang berorientasi pada materi atau ekonomi. Hal ini memang wajar mengingat kesenian gandrung juga merupakan tontonan hiburan yang dapat dijadikan tempat rekreasi pikiran. Selain itu, penari gandrung untuk menampilkan kesenian gandrung, kelompok kesenian gandrung memelukan biaya yang tidak sedikit untuk transportasi, pengadaan dan perawatan kostum dan alat musik, sampai biaya makan dan pengganti waktu yang terbuang. Oleh karena itu sudah sepantasnya apabila penampilan kelompok kesenian gandrung harus diganti dengan pamrih dalam bentuk materi.

Ibu Wiwik Sumartin menceritakan bahwa biasanya gandrung tampil diacara hajatan masyarakat desa. Untuk tarif biasanya sebesar Rp.500.000,- yang dibagi untuk semua penari dan pemusik. Tarif sekecil itulah yang dapat dibayar oleh penonton untuk kreatifitas dan loyalitas pelaku kesenian gandrung Banyuwangi. Sudah sepantasnya apabila kemudian kesenian gandrung menjadi kesenian langka dan kelompok gandrung banyak yang bubar. Pada tahun 1990an termasuk sebelum tahun 1990 gandrung merupakan bagian kelompok kesenian gandrung yang dibayar oleh ketua perkumpulan atau kelompok gandrung. Namun dimulai sekitar pertengahan tahun 1997 gandrung banyak tampil sendiri atau sekelompok tari yang nantinya mengajak beberapa pemusik yang nantinya dibayar oleh sang gandrung. Sedangkan perkumpulan atau kelompok kesenian gandrung sudah banyak yang bubar pada tahun 1995 (Wawancara 12 Agustus 2007).

Pada periode tahun 1997 – 2001 kesenian gandrung sedikit diarahkan menuju perusahaan rekaman. Hal ini dimaksudkan agar kesenian gandrung tetap lestari mengingat pada periode ini terjadi dua peristiwa penting di Banyuwangi yaitu :

a. Terjadinya krisis ekonomi berkepanjangan yang menyebabkan hampir tidak ada masyarakat mau mengundang pertunjukan kesenian gandrung karena faktor biaya, padahal kelompok kesenian gandrung sangat membutuhkan materi atau biaya minimal untuk biaya perawatan alat dan kostum. Itupun selain biaya hidup para pemain dan pemusik gandrung sendiri.

b. Terjadinya krisis sosial dengan merebaknya isu santet yang menjadikan gandrung selalu ragu-ragu untuk tampil dalam suatu pergelaran gandrung. Hal ini terkait dengan ijin pihak berwajib yang sangat sulit karena takut jikalau kesenian gandrung nantinya ditumpangi kepentingan golongan-golongan tertentu (Suyanto, 2004 :24).

Secara garis besar perkembangan gandrung dari segi ekonomi tampak dari perubahan pola pembayaran gandrung dari ketua kelompok sentries menjadi gandrung sentries, dimana pada tahun ini gandrung selain sebagai penari juga bertindak sebagai pelaksana pementasan kesenian gandrung. Dengan system ini, para penari gandrung berlomba-lomba untuk menampilkan tari gandrung terbaiknya agar dapat disukai dan diminati masyarakat yang pada akhirnya berujung pada permintaan tampil.

Pendapatan gandrung pada periode 1997 – 2008 sangat merosot tajam. Memang kalau dilihat dari jumlah atau besar tarif gandrung meningkat. Tetapi keadaan masyarakat yang terkena dampak krisis ekonomi dan krisis sosial menjadikan gandrung sangat jarang tampil dan mendapat tawaran menari (Endro Wilis 2002 : 24).

Pola pikir masyarakat yang semakin berkembang sesuai dengan perkembangan jaman dan mengarah ke pola pikir praktis efektif, membawa pengaruh terhadap perkembangan kesenian gandrung. Ketetapan Bupati Banyuwangi yaitu bapak Samsul Hadi yang menjadikan gandrung sebagai maskot Banyuwangi secara garis besar dapat mengangkat status kesenian gandrung menjadi lebih baik. Ibu Wiwik Sumartin selaku penari gandrung menyebutkan bahwa mulai tahun 2002 sampai sekarang kesenian gandrung dapat dijadikan sebagai salah satu mata mencaharian keluarganya karena honor penari gandrung tahun 2002 sampai sekarang mengalami peningkatan hampir empat kali lipat. Sebelum tahun 2002 honornya hanya mencapai limaratus ribuan yang dibagi untuk penari gandrung dan pemusik. Sejak tahun 2002 penari gandrung menari sendiri atau berkelompok dengan mendapatkan honor sebesar delapan ratus ribu sampai satu setengah juta rupiah yang dibagi untuk semua pemain. (Wawancara 12 Agustus 2007). Penari gandrung terob dalam sekali penampilannya mendapatkan bayaran sebesar satu juta rupiah. Rp. 800. 000,- digunakan untuk membayar empat penari gandrung, Rp. 75.000,- digunakan untuk kas dan sisanya digunakan untuk pemusik dan transportasi (Hasan Basri, Wawancara 8 Oktober 2007).

Dari segi perekonomian individu penari gandrung, kesenian gandrung memberikan sumbangan lebih bagi kebutuhan sehari-hari mereka. Namun tahun 2005 sampai 2007 ini kesenian gandrung menjadi sangat jarang tampil. Kalau dalam tahun 2002 – 2004 dalam satu bulan gandrung dapat tampil lima kali sampai tujuh kali tetapi sekarang mulai tahun 2005, dalam sebulan gandrung hanya tampil dua sampai tiga kali (Srintil 12, 2007 : 56).

Dari segi perekonomian umum daerah Banyuwangi, kesenian gandrung kurang memberikan kontribusi yang cukup. Hal ini dikarenakan sebagai bentuk kesenian yang kembali diminati masyarakat sejak tahun 2002, gandrung masih memerlukan waktu untuk mengenalkan kembali tari gandrung bagi masarakat umum. Selain itu program pemasyarakatan gandrung ini justru membutuhkan pembiayaan dari daerah untuk tiap pementasan, utamanya yang dilakukan diluar daerah.

Dalam proyek pembuatan patung gandrung setinggi 18 meter di wilayah Watu Dodol yang membutuhkan dana sebesar 2,5 milyar rupiah misalnya, banyak fraksi dalam DPRD Banyuwangi yang menolak pembangunan patung gandrung karena dinilai sebagai pemborosan. Namun dengan mempertimbangkan aspek pariwisata patung gandrung jadi berdiri (Novi Anoegrajekti, 2007 :72).

Dalam hal ini perlu adanya sebuah upaya bagaimana agar gandrung juga memiliki nilai jual/ekonomis yang tinggi, karena sebuah budaya yang murah menandakan masyarakatnya sama sekali tidak menghargai budaya. Adanya subsidi anggaran pemerintah untuk menopang kelestarian kesenian gandrung akan berdampak signifikan, karena para pemilik gandrung tidak perlu mematok harga yang terlalu tinggi kepada konsumen mengingat sudah ada subsidi dari pemerintah untuk sanggar gandrung tersebut. Bagaimanapun gandrung harus tetap dipertahankan sebagai sebuah budaya dan kesenian local yang memiliki nilai estetis dan profit yang memberikan kepuasan bagi kita semua.

Dari Segi Budaya

Sebagian besar penduduk di Banyuwangi adalah petani dengan luas area persawahan sebesar 66.553 hektar. Hasil utama pertanian di Banyuwangi adalah padi yaitu mencapai 633.169 ton per tahun (Rhitaoni, 2007 :36). Bapak Fatrah Abbal menyebutkan bahwa lingkungan alam pedesaan yang agraris itulah yang melahirkan gandrung Banyuwangi. Hal ini terlepas dari asal-usul gandrung Banyuwangi yang masih membingungkan, sebenarnya kesenian gandrung merupakan suatu wujud tarian terima kasih para masyarakat desa kepada dewi padi atau dewi Sri karena telah melimpahkan hasil panen yang melimpah.

Gandrung inilah yang akhirnya terus berkembang dan menjadi dasar dari semua kesenian daerah asli Banyuwangi. (Wawancara 12 Agustus 2007). Tari gandrung merupakan tari yang berhubungan dengan adapt istiadat yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat. Kepercayaan ini menjadikan gandrung selalu tampil dalam ritual-ritual adapt seperti larungan, petik laut, selamatan dan menerima tamu kabupaten (I Wayan Dibia, 2006 : 257).

Pada jaman dahulu sampai tahun akhir tahun 2001 atau sampai penetapan gandrung sebagai maskot Banyuwangi seorang penari gandrung yang tergabung dalam kelompok kesenian gandrung banyak hidup sendiri dan kurang disukai oleh masyarakat. Citra gandrung di era 60 – 90an masih sangat erat melekat dalam diri gandrung. Dijadikannya gandrung sebagai prostisusi terselubung oleh sekelompok orang semakin menyudutkan posisi gandrung. Selain itu juga banyak penari gandrung yang menjadi simpanan pejabat dari pejabat tingkat desa sampai kabupaten. Noda itulah yang mencemari citra gandrung, padahal tidak semua penari gandrung berbuat buruk (Dedy Luthan, 1990 : 19).

Perkembangan budaya dalam lingkup gandrung pada periode 2002 – 2006 mengarah pada budaya yang praktis dan instant. Hal ini tampak dengan digantinya instrument gandrung asli menjadi keping VCD atau DVD dan hilangnya kepercayaan magis yang dulu berkembang dalam kesenian gandrung.

Menurut Wiwik Sumartin dan Sudarti yang merupakan gandrung senior di Banyuwangi, kesakralan kesenian gandrung dari tahun ketahun semakin memudar. Tari gandrung yang diyakini mempunyai pertalian erat dengan tari seblang Bakungan menjadi tarian biasa yang tidak memerlukan ritual tertentu. Padahal pada jaman dahulu sampai tahun 2000-an seorang penari gandrung apabila mau melakukan suatu pertunjukan maka terlebih dahulu melakukan ritual-ritual khusus seperti, Puasa putih 1 – 3 hari. Nyekar di makam almarhum Semi sebagai pemrakarsa gandrung perempuan pertama. Melakukan ritual ringan yang lain seperti berdoa bersama dan luluran menggunakan syarat-syarat tertentu.

Dimasa sekarang, khususnya semenjak tahun 2004 sampai sekarang ritual-ritual mistis sedikit-demi sedikit mulai dikurangi dan akhirnya ditinggalkan. Seorang penari gandrung sebelum tampil hanya memerlukan merias diri sederhana tanpa ritual-ritual khusus yang mengikat. Hal ini akibat dari perkembangan gandrung kearah modernisasi yang dapat masuk ke sekolah-sekolah dan sanggar-sanggar tari bukan melalui perkumpulan kesenian gandrung.

Gandrung di jaman sekarang marupakan tarian umum yang dapat dipelajari siapa saja dan dimana saja dengan mudah. Hal ini berbeda dengan dahulu dimana gandrung sangat sulit dipelajari. Hal ini dikarenakan selain sema orang tua melarang anaknya menari gandrung juga karena fasilitas yang tersedia untuk belajar gandrung sangat terbatas. Orang hanya dapat belajar menari gandrung di sanggar tari atau kelompok kesenian gandrung dengan peralatan asli yang dibunyikan oleh pemusik gandrung. Kebanyakan pemusik hanya mau menabuh gamelannya dalam pertunjukan saja, bukan untuk melatih tari. Hal ini menjadikan peminat penari gandrung sangat sedikit kalaupun ada peminat gandrung adalah keluarga dekat gandrung atau anaknya. Oleh karena itu kebanyakan pewarisan kesenian gandrung melalui keturunan.

Pada jaman dahulu sampai tahun 2002 seorang penari gandrung yang tergabung dalam kelompok kesenian gandrung banyak hidup sendiri dan kurang disukai oleh masyarakat. Citra gandrung di era 60 – 90an masih sangat erat melekat dalam diri gandrung. Dijadikannya gandrung sebagai prostisusi terselubung oleh sekelompok orang semakin menyudutkan posisi gandrung. Selain itu juga banyak penari gandrung yang menjadi simpanan pejabat dari pejabat tingkat desa sampai kabupaten. Noda itulah yang mencemari citra gandrung, padahal tidak semua penari gandrung berbuat buruk.

Proses pertentangan budaya gandrung dengan budaya islam terjadi dalam berbagai kesempatan. Dalam tahun 1996 sempat terjadi kontak sosial masyarakat yang menolak pembangunan patung gandrung di depan pelabuhan ketapang Banyuwangi tepatnya di sebrang jalan masjid ketapang (Novi Anoegrajekti, 2007 :72). Hal ini membuktikan bahwa agama dan budaya islam sangat bertentangan dengan budaya dan kesenian gandrung. Namun perbedaan pandangan tersebut dapat terselesaikan dengan proses penyelarasan pendapat tentang kesenian gandrung. Hal ini demi kemajuan kesenian daerah yang berdampak juga bagi kemajuan suatu daerah.

Pada periode 2002 – 2006, diskriminasi yang dilakukan masyarakat terhadap penari gandrung menjadi terkikis dan menghilang. Hal ini disebabkan selain adanya pengakuan terhadap kesenian gandrung, juga merupakan dampak dari pergeseran gandrung dari kesenian rakyat menjadi kesenian elit daerah Banyuwangi. Penari gandrung sendiri mengalami perkembangan dimana sebelum tahun 1996 penari gandrung adalah seniman gandrung yang benar-benar penari gandrung sejak kecil, pada periode 1997 – 2002 penari gandrung banyak didominasi pelajar sekolah menengah atas atau kelompok remaja putri, sedangkan pada periode tahun 2002 – 2006 penari gandrung adalah remaja putri yang banyak yang berpendidikan tinggi seperti dari perguruan tinggi dan anak-anak kecil dari sekolah dasar. Kalaupun ada penari gandrung lainnya adalah penari gandrung hasil dari pendidikan gandrung dalam acara meras gandrung yang diadakan tiap tahun.

Pada pemerintahan Ratna Ani Lestari berlangsung proses multikultural yang menekankan pada identitas lokal using yang berdampingan dengan budaya local daerah lain. Hal tersebut tampak dalam parade kesenian dalam peringatan ulang tahun Banyuwangi, dimana gandrung tampil bersama dengan berbagai macam adat dan budaya daerah lain seperti Bali, Madura dan Surabaya serta Ponorogo. Multikultural mempunyai dampak positif bagi perkembangan gandrung karena gandrung dapat belajar dari kesenian daerah lain dalam hal proses pengembangan dan pemasyarakatan gandrung ( Novi Anoegrajekti, 2007 : 38)

Dari Segi Pariwisata

Tahun 1997-2002 merupakan masa transisi kesenian gandrung, dimana kesenian gandrung mencoba mengubah image masyarakat tentang cerita buruk kesenian gandrung tempo dulu. Di masa ini kesenian gandrung Banyuwangi sangat jarang muncul dipublik. Kalaupun ada itupun berada diluar wilayah Banyuwangi. Namun segi budaya, gandrung memberikan banyak masukan bagi kabupaten Banyuwangi. Sebagai kesenian daerah Banyuwangi, gandrung banyak memperkenalkan budaya Banyuwangi lewat berbagai penampilannya di berbagai daerah misalnya :

Pada awal tahun 1997 atau akhir tahun 1996 tari gandrung tampil dalam acara festival tari tradisional di Finlandia. Sekitar enam penari gandrung dan kelompok penabuh gamelannya tampil dan mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat dunia termasuk pengamat seni Eropa.

Pada tahun 1998 tari gandrung mendapat undangan untuk mengisi acara ASP (Apresiasi Seni Pertunjukan) Jakarta untuk berkeliling SMU-SMU se-Jakarta sambil menyebarluaskan tarian gandrung. Dalam kesempatan ini gandrung terob mendapatkan peminat yang cukup banyak dari kalangan siswa SMU-SMU di Jakarta. (Belajar Dari Pertunjukan – Majalah Gong : 2005). Siswa-siswi SMU di wilayah Jakarta sangat tertarik mempelajari gandrung daripada kesenian jawa timuran lainnya. Hal ini tidak terlepas dari unsur keindahan, kedamaian dan keluwesan yang terdapat dalam tarian gandrung.

Pada bulan Juli 1998 Gandrung tampil di festifal tari tradisional Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Lewat festival inilah akhirnya gandrung mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas yang kemudian dilanjutkan dengan menggelar pertunjukan keliling Indonesia walaupun sebatas kota-kota tertentu seperti Surabaya, Surakarta, Denpasar, Yogyakarta dan Semarang.

Pada tahun 2001 tari gandrung dipentaskan dalam Festival Seni Pertunjukan Indonesia di Jakarta dan mendapatkan sambutan yang baik dari kalangan seniman Indonesia dan dunia yang menghadiri festival tersebut. Hal ini membuktikan kalau tarian gandrung yang sempat dikesampingkan di Banyuwangi mempunyai penggemar yang sangat luas.

Dari penampilan gandrung yang cukup banyak di berbagai daerah tersebut merupakan upaya pengenalan budaya Banyuwangi terhadap masyarakat luar Banyuwangi yang nantinya juga sangat menguntungkan gandrung itu sendiri.

Penampilan gandrung di berbagai daerah dan berbagai acara ternyata dapat memikat masyarakat seni Indonesia dan dunia bahwa Banyuwangi juga memiliki obyek pariwisata budaya yang tersendiri dan patut dibanggakan sebagai salah satu produk pariwisata unggulan di Banyuwangi. Penampilan gandrung diberbagai daerah itu sendiri dapat menunjukkan bahwa kota Banyuwangi memiliki kebudayaan dan kesenian tersendiri yang berbeda dengan daerah lainnya terutama dengan pulau bali.

Periode tahun 2002 – 2006 merupakan masa kebangkitan kesenian gandrung. Gandrung yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah Banyuwangi lewat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi banyak tampil diacara kesenian rakyat diberbagai daerah guna mempopulerkan dan mengenalkan gandrung sebagai kesenian asli Banyuwangi. Pada Periode 2002 – 2006 ini gandrung berkali-kali tampil dalam even kesenian daerah tingkat provinsi, nasional bahkan internasional antara lain.

Pada tanggal 23 Juni 2002 gandrung tampil di Pendopo Taman Budaya Jawa Timur di Surabaya lewat Surabaya Full Music. Dalam kesempatan ini gandrung yang dibawakan oleh grup Labas Wisata (yang berarti perjalanan wisata) dari Banyuwangi mampu membuat semua penonton dan seniman Jawa Timur terhibur. Beberapa penonton yang berasal dari Universitas California, Amerika Serikat sangat menyukai tarian gandrung dan ikut menari menjadi pengibing saat tahap paju gandrung. Hal ini membuktikan kalau tarian gandrung yang sempat dikesampingkan di Banyuwangi mempunyai penggemar yang sangat luas.

Pada bulan agustus tahun 2002 kesenian gandrung tampil di Taman Mini Anjungan Jawa Timur dalam kesenian adat dan tradisi Jawa Timur. Kesenian gandrung merupakan salah satu tari yang paling banyak disukai oleh pengunjung sehingga mulai tahun 2002 sampai sekarang kesenian gandrung selalu ditampilkan dalam acara tahunan tersebut.

Pada tahun 2003 gandrung dibawah asuhan Bapak Zaini tampil di Korea Utara. Pada tanggal 18 Desember 2003 bertepatan dengan hari jadi Banyuwangi, diadakan festifal dan parade kesenian rakyat di alun-alun Banyuwangi. Dalam kesempatan ini ratusan penari gandrung baik yang tua sampai yang muda mengikuti parade ini.

Pada tahun 2005 sanggar Lang-lang Buana menampilan pawai budaya di Istana Negara Jakarta. Sebanyak 25 penari gandrung ditampilkan dalam acara tersebut. Penampilan gandrung di Istana Negara sudah berlangsug selama tiga tahun dari 2005 – 2007 untuk memperingati kemerdekaan Indonesia (Seblang 6, 2007 :26)

Sejak tahun 2005, setiap tanggal 1 September kesenian gandrung mendapat kehormatan untuk tampil dalam acara ulang tahun Jembrana, Bali.

Mulai tahun 2006 sampai tahun 2009 gandrung juga tampil di Osaka Jepang dalam pekan kesenian tradisional se-Asia. Menurut rencana, pergelaran seni Asia yang diadakan tiap tahun dibulan agustus tersebut akan menampilkan tari tardisional dari berbagai Negara di Asia. Untuk Indonesia, gandrung dan beberapa tari tradisional lainnya mendapat giliran tampil tahun 2006 sampai 2009. kesempatan ini dapat dijadikan arena promosi terhadap kesenian gandrung yang nantinya dapat menarik perhatian wisatawan mancanegara khususnya Asia untuk datang mengunjungi Banyuwangi.

Penetapan gandrung sebagai maskot pariwisata Banyuwangi mengakibatkan Banyuwangi sudah mulai dikenal dalam dunia kepariwisataan. Kemajuan bidang pariwisata Banyuwangi ini bahkan sudah dapat dikatakan mampu menyaingi kepariwisataan Nusa Tenggara Timur bahkan pulau Bali. Dengan dikenalnya Banyuwangi dalam dunia Pariwisata maka wisatawan mancanegara yang dulunya hanya mengenal Bali menjadi tertarik untuk singgah di Banyuwangi.

Penetapan gandrung sebagai maskot pariwisata Banyuwangi memang dapat mempopulerkan kesenian gandrung. Penampilan gandrung khususnya gandrung sanggar atau gandrung yang ditampilkan anak muda atau sekolah meningkat pesat, tetapi penampilan gandrung asli atau gandrung terob justru tidak mengalami perubahan. Hal tersebut tampak dari perkembangan organisasi atau kelompok gandrung yang ada di Banyuwangi yang tiap periode mengalami penurunan karena bubar atau menyatu dengan kelompok gandrung lain. Adapun perkembangan jumlah kelompok gandrung sebagai berikut.

Berdasarkan program kerja tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, sejak tahun 2002 gandrung tampil dalam event bulanan di gelanggang seni dan budaya Blambangan. Selain itu gandrung, khususnya gandrung sanggar selalu tampil dalam acara festival seni pertunjukan di Taman Mini Indonesia Indah yang diselenggarakan satu tahun sekali. Penampilan gandrung diluar negeri juga menjadi salah satu agenda tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi walaupun tidak setiap tahun gandrung tampil di acara luar negeri karena terbentur biaya.

Kesimpulan

Dilihat dari sektor personal, gandrung pada periode 1997 – 2006 mengalami peningkatan. Hal ini dapat terlihat dari tarif yang ditetapkan dan diterima penari gandrung. Dengan tarif yang cukup, seorang penari gandrung dapat mencukupi kebutuhannya disamping dapat mendirikan sanggar tari gandrung. Dilihat dari sektor pendapatan daerah, gandrung masih belum bisa memberikan masukan bagi pemasukan daerah. Hal ini dikarenakan baru pada tahun 2002 gandrung dikenalkan kepada masyarakat luas dan sampai saat ini Pemerintah Daerah Banyuwangi masih dalam tahap mensosialisasikan kesenian gandrung.

Gandrung Banyuwangi membawa dampak positif bagi perkembangan budaya Banyuwangi. Dengan adanya gandrung, maka kesenian lain dapat tercipta. Seperti kesenian tari gandrung sanggar yang merupakan perluasan dari babak jejer dan olah vokal kendang kempul yang merupakan perluasan dari tata cara sinden atau menyanyi gandrung. Gandrung dapat memberikan ciri budaya bagi masyarakat Banyuwangi yang nantinya dapat dijadikan identitas Banyuwangi.

Penetapan gandrung sebagai maskot pariwisata mengakibatkan kegiatan sektor pariwisata di Banyuwangi meningkat. Identitas budaya Banyuwangi lewat gandrung dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi bidang pariwisata. Meskipun peningkatannya belum begitu tampak tetapi dalam beberapa tahun kedepan diyakini sektor pariwisata akan terus meningkat

Penetapan gandrung sebagai maskot Banyuwangi ini membawa dampak besar terutama bagi kesenian gandrung itu sendiri. Adapun dampak penetapan gandrung sebagai maskot Banyuwangi adalah :

Bagi kesenian gandrung ketetapan ini membawa dampak positif yaitu berkembangnya kesenian gandrung secara meluas. Artinya masyarakat Banyuwangi khususnya akan lebih menerima adanya kesenian gandrung sehingga memasyarakatkan gandrung di hati masyarakat Banyuwangi menjadi mudah. Ketetapan Bupati ini merubah pandangan minor tentang gandrung sehingga kesenian gandrung tidak lagi menjadi kesenian rakyat malam dan terkesan jalanan tetapi menjadi kesenian rakyat yang dijadikan materi sekolah lewat program ekstrakurikulernya. Bagi warga Banyuwangi ketetapan ini memberikan identitas baru bagi kota Banyuwangi yang merupakan ciri khas yang membedakan Banyuwangi dengan kota lainnya di Indonesia.

Sebagai kesenian asli Banyuwangi, sangat disayangkan apabila kesenian gandrung tenggelam bersama modernisasi jaman. Untuk itulah kini saatnya generasi muda untuk mengembangkan kesenian gandrung agar dapat dikenal, diterima dan diminati oleh khalayak umum.

Jalan pertama yang harus dilakukan oleh warga Banyuwangi adalah mengembangkan dan memberi jalan bagi gandrung untuk berkembang. Kesenian gandrung sekarang sudah mengarah pada dunia pendidikan yang harus dipupuk demi membangun jati diri daerah dan keanekaragaman budaya daerah. Selain itu hendaknya warga Banyuwangi menyadari bahwa kekayaan budaya daerah sangat perlu dikembangkan tanpa melihat perbedaan sehingga kekayaan kebudayaan nasional akan semakin bertambah.
read more...